Perubahan
saat menjadi seorang mahasiswa berarti dituntut menjadi orang yang mandiri,berpikir
kritis dan mampu berpikir ke depan sehingga dapat bersaing di dunia kerja. Jangka
waktu kuliah biasanya ditempuh dalam waktu 1-7 tahun tergantung tingkatan. Masa
kuliah yang efektif adalah masa kuliah yang dihabiskan dengan aktivitas yang
bermanfaat untuk menunjang nilai maupun bakat. Di masa kuliah adalah masa pematangan
diri dengan menambah banyak pengalaman baik dalam organisasi maupun kelompok
sosial. Dengan demikian terjalin banyak koneksi dengan teman dan kemampuan softskill yang diyakini mampu
mempermudah dalam mencari pekerjaan. Namun dilema dan rasa khawatir dimulai
saat masa kuliah itu selesai. Masa saat tugas Akhir atau skripsi lolos, setelah
lulus kuliah kita ingin kemana?
Anehnya budaya masyarakat Indonesia yang ramah tamah dan sering bersilaturahmi saat lebaran makin memperjelas keadaan sang mahasiswa setelah lulus kuliah. Setiap lebaran pasti ada saja yang bertanya “Sudah lulus kuliah ya, sekarang kerja dimana?”. Beberapa dari mereka ada yang merasa kesal dan terbebani dengan pertanyaan itu, karena justru pasca kuliah bukan berarti harus bekerja tapi masa itu adalah masa pilihan. Apa saja sih yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa pasca kuliah?
- Kuliah lagi
Banyak
orang yang setelah lulus kuliah akan mencari lowongan kerja di Koran atau
internet. Tapi ada tipe orang yang lebih memilih kuliah lagi. Tipe orang
seperti ini pada umumnya bertujuan meraih
gelar lebih tinggi agar mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi pula,
ada juga yang memang ingin kuliah lagi
agar mendapat ilmu lebih mendalam dan tuntas. Memilih kuliah lagi bukan berarti
mudah, karena kuliah lagi berarti kita memilih untuk belajar lagi, kuis lagi,
ujian lagi, bayar ukt lagi. Tentu saja ini membuat kita harus kembali berkutat
dengan bacaan dan segala problematika mahasiswa seperti sebelumnya namun dengan
euphoria yang berbeda. Yaitu dengan pikiran yang lebih terbuka, realistis dan
dewasa.
Ayin Layyinun contohnya, ia merupakan salah satu di antara
ribuan pelajar SMK yang bertekad melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan.
Keinginannya itu dilatarbelakangi lantaran ingin mengejar cita-cita sebagai
seorang peneliti. Ayin mengungkapkan, melanjutkan kuliah sangat penting
terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurutnya, pendidikan menjadi
modal utama untuk bisa memenangkan persaingan. Kuliah
lagi setelah lulus kuliah tentu membuat sang mahasiswa menjadi lebih serius untuk
menghadapi dunia kerja. Tak ada main-main seperti dulu, tak ada lagi giat
berorganisasi seperti dulu. Sebab biasanya mereka yang giat berorganisasi
sebelumnya memilih menghentikan kegiatan seperti itu karena ingin cepat lulus
agar cepat mendapat pekerjaan dan menghasilkan uang yang sudah menjadi tujuan
lama.
- Langsung
Kerja
Tak
dapat disangkal lagi, pilihan ini yang menjadi tujuan utama seorang mahsiswa
saat baru memasuki perkuliahan. Para mahasiswa baru, rata-rata berpikiran pasca
kuliah nanti mereka akan langsung bekerja. Sebab dengan gelar dan ilmu yang
mereka dapat, mereka bisa langsung bekerja di perkantoran dengan gaji minimal
rata-rata. Tapi yang perlu diingat, perusahaan membutuhkan karyawan yang ahli
dalam bidang pekerjaan dan memiliki pengalaman kerja yang baik bukan hanya
sekedar nilai bagus dan gelar tinggi. Tapi yang dipertanyakan adalah apakah
mereka benar benar mampu dan siap bersaing di dunia kerja? Apakah ilmu yang
didapat di masa kuliah telah cukup dan menjamin kerja mereka bagus di perusahaan? Belum
lagi bagi mereka yang telah lulus kuliah
sekian tahun namun belum juga mendapat kerja. Jika seperti ini apa yang harus
disalahkan? Salah satu faktornya adalah orang tua. Mengapa orang tua?
Sebuah survey yang dilansir Metrotvnews.com mengungkapkan, 91 persen orangtua di Indonesia
memiliki andil menentukkan profesi yang akan digeluti anak mereka.
Data dari HSBC Value of Education 2016 tersebut
menyebutkan, 1 dari 2 orangtua menyarankan profesi dengan penghasilan tinggi,
yakni kedokteran (20%), ilmu komputer (12 %), teknik (11 %), keuangan (7 %),
dan pendidikan (6 %). Sebanyak 51 persen orang tua juga menyarankan anak mereka
untuk mengambil kelas pelatihan khusus. Hal ini dinilai penting untuk
meningkatkan kemampuan profesional sehingga anak memiliki nilai tambah di mata
perusahaan. Namun nyatanya, masih banyak pengangguran ber-sarjana di Indonesia.
Sedangkan di bengkulu, Data Badan Pusat
Statistik (BPS) Balikpapan mencatat, sebanyak 6.364 sarjana strata satu (S1)
belum mendapatkan pekerjaan tetap alias menganggur pada 2016. Menurut saya hal
ini terjadi karena kelebihan lulusan jurusan yang sama. Di tanah air ini
terlalu banyak lulusan jurusan seperti ekonomi, manajemen, sastra, dan yang
lainnya. Sedangkan, Indonesia sangat membutuhkan lulusan yang mampu menciptakan
teknologi dibandingkan guru. Kita kekurangan jumlah sarjana teknik bukan sarjana pendidikan yang justru menjamur. Opini saya hampir serupa
dengan anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT), Sofian Effendi beliau mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia
sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa?
Sekarang masih banyak sarjana pengangguran. Yang dihasilkan dari perguruan
tinggi ini adalah yang tidak sesuai dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat lebih
butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi.
- Kuliah
sambil kerja
Pilihan
ini adalah kombinasi dari dua pilihan diatas atau bisa disebut pilihan
alternatif, sebab kuliah sambil kerja menjadikan mahasiswa tetap mecari
ilmu,mendapat gelar tinggi namun menghasilkan uang tanpa bantuan orang tua lagi.
Disamping itu mereka dapat menambah pengalaman sebelum lulus dari “kuliah ke-dua”
nya. Sehingga mereka tidak buta pengalaman kerja dan masuk menjadi lulusan yang
patut diperhitungkan di perusahaan. Hal ini tidak akan bermasalah selama mampu
memanajemen waktu dengan baik.
Komentar
Posting Komentar