Langsung ke konten utama

Menata Kembali Konsep Pendidikan Nasional Yang Mulai Luntur

Menata Kembali Konsep Pendidikan Nasional Yang Mulai Luntur

Maudina Gusella
Psikologi
NIM : 1125164157



71 tahun sudah Indonesia merdeka, pendidikan Indonesia masih dalam tahap berkembang untuk maju. Banyak program kerja pemerintah untuk membuat maju pendidikan Indonesia secara bertahap. Mulai dari 6 tahun wajib belajar zaman presiden soeharto, hingga wajib belajar 9 tahun. Tahun 2015 lalu pun, pemerintah memulai wajib belajar 12 tahun gratis. Hal itu tentu sangat menggembirakan bagi anak-anak Indonesia.


Namun sayangnya berita di media cetak/massa belakangan ini banyak datang dari pendidikan Indonesia yang membuat miris. Mulai dari anak SMA yang ditilang karena tidak memiliki SIM  berani mengancam polisi, dosen yang dibunuh mahasiswa karena diancam diberi nilai jelek, hingga guru yang dipukuli orangtua siswa karena menegur siswa tersebut. Belum lagi foto-foto yang beredar mengenalkan gaya hidup anak sekolahan yang berpacaran layaknya orang dewasa.


Kasus- kasus diatas terlihat serupa, tapi tak sama. Banyak orang mengira karena itu semua datang dari dunia pendidikan yang seakan mengartikan sang pendidik-lah baik guru maupun dosen yang salah. Tentu bukan begitu. Kasus ini sungguh berbeda-beda. Perilaku pelajar-pelajar tersebut bisa datang dari lingkungan keluarga yang tak mendukung, pergaulan teman, hingga media massa. Seperti tayangan di televisi yang manyajikan tontonan sinetron di jam anak harus belajar dirumah. Belajar untuk hari esok jadi tergantikan dengan acara atau sinetron yang sedang populer. Tayangan anak sesuai umurnya justru disama ratakan dengan tontonan orang dewasa. Hal ini terlihat sepele namun sungguh masalah serius yang membuat resah. Arus teknologi yang kian deras justru tambah mengikis moral dan konsep pendidikan yang diciptakan oleh ki hajar dewantara.


Menurut ki hajar dewantara, tujuan pendidikan nasional adalah membentuk bangsa Indonesia yang berpikir,berperasaan dan berjasad merdeka. Konsep pendidikan tersebut harus menerapkan Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide) dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan).



Konsep pendidikan itu bisa berjalan dengan baik bila bukan hanya dari guru sebagai pendorong, teladan atau pemberi ide. Melainkan dari para orangtua, masyarakat dan teman sebaya. Di abad 21 ini, yang erat dengan teknologi tentu tidak dapat disamakan dengan zaman ki hajar dewantara dulu. Dimana sumber ilmu pelajar kala itu adalah guru. tapi sekarang bukan lagi. Pelajar bisa belajar darimana saja dengan internet melalu gadget atau televisi. Oleh karena itu media massa maupun teknologi harus ikut menata kembali konsep pendidikan bertahun tahun yang lalu sudah dicipta.  Dengan menyaring tayangan,dan berita yang layak dan sesuai umur para pelajar. Para orang tua pun harus memberi pendidikan moral sederhana dan agama di dalam keluarga. Lingkungan sekitar juga harus ikut mendukung ide/opini pelajar di masyarakat guna memberi pikiran positif. Itu semua demi membangun pendidikan Indonesia dengan konsep pendidikan nasional ki hajar dewantara di zaman modern.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#UsiaCantik-mu atau Perempuan di sekitarmu

“Istri saya berusia 51 tahun dan dia mengatakan sesuatu layaknya perempuan muda. Dia berkata bahwa dia tidak memiliki banyak baju untuk dipakai padahal ada banyak baju di lemari pakaiannya” – Steve Harvey di acara Little big shots . Itu pernyataan yang masih saya ingat sampai saat ini setelah menonton acaranya kemarin malam. Ini mengingatkan saya bahwa perempuan memang makhluk tuhan yang sulit ditebak pikiran dan perasaannya. Perempuan bisa mengatakan dia tidak memiliki banyak baju karena mereka ingin berusaha tampil beda dengan baju yang berbeda-beda pula. Hal itu hanya demi terlihat cantik didepan pasangannya bahkan didepan semua orang. Bukan untuk hedonisme, tapi memang begitulah perempuan. Sulit dimengerti bagi mereka, para lelaki. Namun tidak semua orang beranggapan sama. Cantik menurut sebagian orang justru sesuai dengan usianya. Dan biasanya perempuan banyak dibilang cantik ketika masih berusia muda dan belum menikah, yaitu sekitar berumur 20 sampai 30-an tahun. Waj...
  Kau Datang                                                 Senyum ini perlahan menjadi malu Haruskah aku menyukaimu seperti ini Bahasa tubuh memesona Senyum pun tak kalah Terukir simpul ujung bibir ini Namun hanya dada yang tercekat Nampak rasa luar biasa   Mengetahui kedatanganmu yang tak pasti Buat diriku menjelajah  Itulah aku Menyingkap tirai jendela sekadar melihat keberadaanmu 15 depa itu Haruskah aku suka Pernah kau ajak kawanmu sepenerbangan Gagahnya seragam biru itu bila terpakai Apakah aku ini Siapakah kau ini Menyukaimu bukan apa T api sembunyi-sembunyi ini terus menyiks a

Lulus Kuliah, Lalu Harus Apa?

Perubahan saat menjadi seorang mahasiswa berarti dituntut menjadi orang yang mandiri,berpikir kritis dan mampu berpikir ke depan sehingga dapat bersaing di dunia kerja. Jangka waktu kuliah biasanya ditempuh dalam waktu 1-7 tahun tergantung tingkatan. Masa kuliah yang efektif adalah masa kuliah yang dihabiskan dengan aktivitas yang bermanfaat untuk menunjang nilai maupun bakat. Di masa kuliah adalah masa pematangan diri dengan menambah banyak pengalaman baik dalam organisasi maupun kelompok sosial. Dengan demikian terjalin banyak koneksi dengan teman dan kemampuan softskill yang diyakini mampu mempermudah dalam mencari pekerjaan. Namun dilema dan rasa khawatir dimulai saat masa kuliah itu selesai. Masa saat tugas Akhir atau skripsi lolos, setelah lulus kuliah kita ingin kemana? Anehnya budaya masyarakat Indonesia yang ramah tamah dan sering bersilaturahmi saat lebaran makin memperjelas keadaan sang mahasiswa setelah lulus kuliah.  Setiap lebaran pasti ada saja yang bertanya ...