Hi, Pembaca!
Lamaaaa sekali saya tidak menulis disini ya! Saya mengetik tulisan ini saja sambil bersin-bersin, sebab saking berdebunya blog ini, hehe.
Jadi, sebenarnya ada amat-banyak-sekali yang ingin saya bicarakan disini. Tapi, sepertinya waktu dan keinginan masih belum mau berpegangan satu sama lain. Sebaiknya, nanti saya bicarakan satu persatu kalau ingat, ehe!😃. Di usia saya yang sudah hidup selama kira-kira dua dekade lebih 402 hari ini, saya belajar banyak sekali soal kehidupan. Ada banyak untungnya juga menjadi seorang introvert yang memiliki daya intuisi dan thinking cukup baik. Bisa menjadi thougtfull terhadap kegiatan di kehidupan sehari-hari, salah satu keuntungannya. Khususnya semenjak saya keluar dari zona pubertas yang buat diri kelimpungan itu, saya jadi lebih banyak berpikir soal kehidupan dibanding sekedar haha-hihi di sekolah, atau memikirkan angka di lingkaran setan akademik.
Banyak sekali yang saya lewati selama saya hidup. Tapi sungguh, titik balik itu saya rasa di usia setelah masa pubertas selesai. Di tahun 2016, kala usia saya waktu itu 18 tahun. Masih semester 1, kuliah tahun pertama.
"Pffft...Tolok ukur keluar dari zona pubertas itu bagaimana memangnya? Ngawur ya?"
"Dari mana kita bisa tahu kalau sudah menjadi seorang yang lebih dewasa?"
Gampang dik-adik. Pubertas itu tentu bukan hanya diukur dari ukuran fisik. Tapi daya pikir. Pubertas itu kan tanda kita sebagai manusia mulai memasuki masa matang, baik secara fisik maupun mental. Kalau kamu sudah buat rencana tentang masa depanmu secara terperinci, tidak ngawang-ngawang, kamu sudah keluar dari zona pubertasmu sebenarnya. Masa depan yang dimaksud ini bukan hanya sebatas kamu bakal kuliah dengan jurusan apa, fakultas apa, nanti akan bekerja dengan profesi apa, bukan. Bukan itu. Tapi lebih jauh lagi. Soal kehidupan yang lebih serius. Bagaimana kamu berpikir kamu bisa bermanfaat untuk orang lain, namun disaat yang bersamaan kamu bahagia dari segala penjuru di kehidupanmu sendiri.
"Maksudnya ikigai?"
Well, bisa jadi. Kalau kamu sudah bisa memikirkan cara menggapai ikigai dengan caramu sendiri, mencapai cita-cita dengan caramu sendiri, tandanya kamu sudah keluar dari zona pubertasmu sendiri. Tandanya kamu sudah bergerak menjadi seorang yang lebih dewasa. Banyak kok sebenarnya orang-orang di usia yang hampir mencapai 3 dekade di bumi ini, tapi mikirnya masih segitu-gitu saja. Masih sempit, dalam artian masih ego-sentris. Masih memikirkan dia-dan keluarganya saja. Padahal, kita hidup di dunia ini satu darah yang sama dari Adam dan Hawa. Kita sesungguhnya hidup untuk saling berkaitan dan bermanfaat satu sama lain. Tuhan sengaja membagi-bagi kesatuan utuh itu menjadi potongan-potongan ras, budaya, suku, kepercayaan, agar jaringan otak yang telah diciptakan se-keriput itu tidak menjadi sia-sia. Sayangnya, beberapa dari kita masih belum bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya? sudah, Alhamdulillah. Kamu, bagaimana?
Balik lagi soal keluar dari zona pubertas. Zona titik balik hidup saya ketika saya memiliki keponakan laki-laki untuk kedua kalinya. Kebetulan, kenangan dengan keponakan saya yang pertama tidak terlalu banyak, saya tidak memiliki aha! moments nya. Keponakan kedua saya ini sungguh membuka pikiran saya lebih banyak. Dia secara tidak langsung membantu saya untuk keluar dari zona pubertas saya sendiri. Ya, memang sudah waktunya keluar dari zona 'nanggung' itu. Saya belajar soal parenting, kesabaran, kasih sayang, ketulusan, dan masih banyak lagi positifnya. Negatifnya, tidak ada sama sekali dari dia.
Negatif itu justru saya rasakan dari pahitnya kehidupan perkuliahan. Bukan, bukan soal mengejar nilai akademik fokusnya. Tapi, hari-hari saya menjadi diri saya sebenarnya. Pada masa itu, secara puitisnya saya berada di suatu perjalanan dan terombang-ambing kesana-sini karena batu, seperti terlempar angin, terguyur hujan, merasakan oase, melihat pelangi, bahkan seperti mendapat tumpangan dari orang baik, dan merasa kaki bengkak karena harus jalan kaki sebab kehabisan bensin. Menurut saya, hidup itu bukan lagi soal kata kiasan 'rasa' dari indera pengecap, tapi soal rasa dari mental dan fisik. Dan itu paling sesuai dan realistis. Karena kita manusia terdiri dari dua bagian, "Jiwa" dan "Raga". Kata kiasan yang paling tepat harusnya soal rasa itu. Bukan rasa Pahit-Asam-Manis- kehidupan.
Dan, satu lagi. Kehidupan itu milik kita dan yang lainnya. Milik kita, karena kita yang menjalaninya, milik yang lainnya karena kita hidup berpasangan. Jangan pernah merasa kehidupan kamu itu yang paling menyulitkan, menyedihkan, hina, menjijikkan. Ada yang jauh lebih buruk dari apa yang kamu rasakan ini. Ada yang jauh lebih buruk sekali dari kehidupanmu saat ini. Nikmati saja sendiri, dan coba ajak yang lainnya untuk turut berbahagia.
Komentar
Posting Komentar