Langsung ke konten utama

Beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum menyesal masuk Jurusan Psikologi


“Psikologi itu ilmu yang bisa baca pikiran orang kan?”
“Psikologi kayanya seru sih, soalnya kan mempelajari ilmu tentang psikis manusia.”
“Psikologi nanti kerjanya jadi psikolog, sama seperti psikiater. Eh, sama gak sih?”

Haduuu pusing jadinya
Ada begitu banyak jawaban lainnya ketika ditanya tentang ‘Apa itu psikologi’. sayangnya, sebagian orang menganggap bahwa psikologi adalah ilmu yang bisa membaca pikiran manusia. No! psikologi bukan ilmu dukun. Lalu, sebenarnya apa itu psikologi?

Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu psyche artinya jiwa dan logos artinya ilmu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Namun, psikologi tidak mempelajari jiwa manusia secara langsung, melainkan mempelajarinya melalui perilaku manusia. Dengan demikian, psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan proses-proses mental. Yang dipelajari di Psikologi pun hal-hal seperti mengapa manusia bisa menangis ketika putus cinta, mengapa manusia merasa berdebar-debar ketika orang yang disukai memperhatikannya, bahkan mengapa bayi bisa menangis jika yang menggendongnya bukanlah sang ibu. Hal-hal seperti itu yang menjadi cakupan ilmu psikologi, sebab psikologi berhubungan dengan mind and behavior. Bahkan masih lebih luas lagi.

Psikologi memang ilmu sosial yang menarik. Bila diantara kalian pernah mengikuti kasus Mirna-Jessica wongso, sosok psikolog dalam situasi persidangan saat itu tentunya membuat orang-orang yang menonton menjadi lebih penasaran mengenai psikologi, khususnya para siswa jenjang menengah atas. Tak banyak juga para siswa yang karena terbiasa menjadi tempat curhat oleh teman-teman sekolah, membuat diri mereka sendiri tertarik pada ilmu psikologi dan berkeinginan menjadi psikolog. Perlu diketahui, mahasiswa psikologi bisa lulus bergelar Sarjana Psikologi setelah menempuh kuliah selama empat tahun  di jenjang S1. Sedangkan untuk menjadi seorang psikolog, sarjana psikologi harus melanjutkan ke jenjang S2 Program Magister Psikologi.  Jika di Indonesia, lama waktu pendidikan yang dibutuhkan rata-rata 6 tahun, yaitu 4 tahun sarjana dan 2 tahun magister, maka lain halnya di luar negeri. Di Amerika, butuh waktu waktu  4 tahun undergraduate dan 5 tahun postgraduate yang terdiri atas jenjang master dan Doctor.

Jadi, lulusan sarjana psikologi tidak hanya menjadi psikolog? Tentu, dan juga tidak akan menjadi psikiater. Nah, kenapa? Banyak yang mengira antara psikolog dan psikiater sama saja. Padahal, jelas berbeda. Psikolog adalah mahasiswa yang telah lulus di jenjang S1 (S.Psi) ilmu psikologi dan program profesi sebagai psikolog (M.Psi). Sedangkan psikiater adalah mahasiswa yang telah menyelesaikan S1 di ilmu kedokteran, kemudian menempuh pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa (dr. Sp.Kj). Selain itu, Psikiater berhak memberi pengobatan kepada kliennya melalui obat-obatan, sedangkan psikolog tidak. Psikolog lebih fokus pada penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi). Jelas berbeda, bukan?

Ada banyak pekerjaan yang menanti seorang lulusan sarjana psikologi diluar sana selain menjadi psikolog. Menurut the College Majors Handbook, dan seperti yang dilaporkan dalam Laporan resmi yang dilansir Psychologytoday.com, sepuluh besar pekerjaan yang menggunakan jurusan psikologi, mencakup bidang manajemen, penjualan, pekerjaan sosial, personalia, dan spesialis keuangan. Umumnya juga bisa bekerja menjadi HRD, konselor, terapis anak berkebutuhan khusus, jurnalis, trainer (di perusahaan), guru bk (bimbingan konseling), psikolog olahraga, dan masih banyak yang lainnya. Memang banyak yang mencari lulusan sarjana psikologi di dunia kerja, sebab mereka bisa memprediksi dan memahami perilaku individu dan kelompok, mengerti bagaimana cara menggunakan dan menginterpretasikan data, memiliki pengetahuan tentang perilaku yang bermasalah, stres, coping, hubungan keluarga, penguasaan prinsip-prinsip memori, penguatan, perkembangan identitas diri, keterampilan organisasi, emosi, dan lain-lain. Tentu tidak semua dipelajari secara mendalam. Karena ada pemilihan penjurusan di semester tertentu untuk belajar lebih dalam sesuai pilihan tersebut.

Kalau begitu, masuk Psikologi sebaiknya dari jurusan  IPA atau IPS? Guys, please


Baik dari IPA maupun IPS, semua bisa masuk ke jurusan Psikologi kok. Namun perlu diketahui, ada beberapa universitas yang menyeleksi calon mahasiswa psikologinya di ujian SBMPTN bukan melalui kelompok ujian Soshum, melainkan kelompok ujian Saintek, salah satunya Unpad. Sedangkan yang melalui kelompok ujian Soshum adalah  UI, UGM, Unair, dan lain-lain. Miskonsepsi lainnya tentang psikologi adalah masih banyak orang yang mengira psikologi tidak ada hitung-hitungannya, ini jelas salah besar. Mahasiswa psikologi yang baru memasuki semester pertama saja, langsung dihadapi oleh mata kuliah Statistik. Di semester dua ada statistik 2, kemudian berlanjut dengan psikometri. Sebab dalam penyusunan skripsi, sangat dibutuhkan perhitungan untuk mengolah data sedemikian rupa. Materi yang dipelajari di statistika pun tidak seperti materi matematika di SMA. Materinya lebih rumit, dan dalam pembelajarannya menggunakan aplikasi yang bernama SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) atau dikenal dengan Paket Statistik untuk Ilmu Sosial. Aplikasi ini digunakan untuk mengolah data secara tepat dan cepat, sehingga tidak akan terlalu banyak menghitung secara manual. Walaupun pada semester awal, mahasiswa psikologi tetap belajar menghitung dan mengolah data statistika secara manual untuk mengerti perhitungan jenis data statstik secara teori terlebih dahulu.

Perlu diketahui nih, SPSS adalah salah satu program yang paling banyak digunakan untuk analisis statistika ilmu sosial. SPSS biasa digunakan oleh para peneliti, baik peneliti kesehatan, peneliti pendidikan, pemerintah, dan lain-lain. SPSS sangat bermanfaat, dan telah dipakai di berbagai bidang seperti, retail, keuangan, telekomunikasi, farmasi, broadcasting, militer, database marketing, riset pemasaran, dan sebagainya. Walaupun begitu, tak hanya mahasiswa Psikologi yang menggunakan program aplikasi ini, mahasiswa pendidikan ekonomi, matematika, dan ilmu sosial lainnya juga menggunakan SPSS saat menyelesaikan tugas akhir. Baik dalam membuat skripsi, tesis maupun disertasi. Terlepas dari ilmu apapun yang dirasa sulit, yang terpenting adalah kemauan serta usaha keras untuk mencapai hasil yang terbaik dan semaksimal, bukan?

Di Indonesia, sangat banyak universitas yang memiliki program studi psikologi, dengan akreditasi yang bervariasi. Seperti di lansir resmi dalam ban-pt.or.id, ada dua puluh lima daftar Universitas di  Indonesia yang memiliki akreditasi A dalam prodi Psikologi. Diantaranya adalah Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Gunadarma, Universitas Mercu Buana, dan banyak yang lainnya. Untuk yang ber-akreditasi B antara lain, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Surabaya dan lain-lain. Sedangkan untuk yang ber-akreditasi C, yaitu Universitas Dhayana Pura, Universitas Jambi, Universitas Nasional Pasim, dan lain-lain. Tapi, apakah akreditasi universitas dan prodi itu penting? Well, penting. BAN-PT selaku Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, telah melakukan akreditasi bagi PTN maupun PTS sejak tahun 1994 untuk mengawasi mutu dan efisiensi pendidikan tinggi. Dengan demikian, pemerintah berharap dengan akreditasi dalam suatu lembaga pendidikan, dapat mempengaruhi meningkatnya taraf kehidupan masyarakat sesuai dengan standar minimal. Bahkan, pemda DIY mensyaratkan calon pegawainya untuk lulus dari perguruan tinggi yang akreditasinya minimal B. Sedangkan di peringkat dunia, menurut Subject tahun 2017, Harvard University adalah Universitas dengan jurusan Psikologi terbaik se-dunia. Disusul dengan Stanford University (United States) diurutan kedua dan University of Cambridge  (United Kingdom) di urutan ketiga. 

Namun pada dasarnya, kuliah dimana saja intinya sama kok, mencari ilmu yang bermanfaat. Masalah sukses atau tidak, masa depan cerah atau tidak, mudah mendapat pekerjaan atau tidak, itu ada pada kerja keras masing-masing. Perusahaan-perusahaan yang bagus didunia kerja tidak hanya menerima nilai akademik tinggi dan soft skill yang mumpuni, tapi juga moral dan akhlak yang baik serta usaha yang jujur dalam diri. Seperti yang pernah Bill gates ucapkan, “If you can’t make it good, at least make it look good

Komentar

  1. Halo kak maudina gusella, saya tertarik dengan skripsi kakak, boleh minta kontaknya kak?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#UsiaCantik-mu atau Perempuan di sekitarmu

“Istri saya berusia 51 tahun dan dia mengatakan sesuatu layaknya perempuan muda. Dia berkata bahwa dia tidak memiliki banyak baju untuk dipakai padahal ada banyak baju di lemari pakaiannya” – Steve Harvey di acara Little big shots . Itu pernyataan yang masih saya ingat sampai saat ini setelah menonton acaranya kemarin malam. Ini mengingatkan saya bahwa perempuan memang makhluk tuhan yang sulit ditebak pikiran dan perasaannya. Perempuan bisa mengatakan dia tidak memiliki banyak baju karena mereka ingin berusaha tampil beda dengan baju yang berbeda-beda pula. Hal itu hanya demi terlihat cantik didepan pasangannya bahkan didepan semua orang. Bukan untuk hedonisme, tapi memang begitulah perempuan. Sulit dimengerti bagi mereka, para lelaki. Namun tidak semua orang beranggapan sama. Cantik menurut sebagian orang justru sesuai dengan usianya. Dan biasanya perempuan banyak dibilang cantik ketika masih berusia muda dan belum menikah, yaitu sekitar berumur 20 sampai 30-an tahun. Waj...
  Kau Datang                                                 Senyum ini perlahan menjadi malu Haruskah aku menyukaimu seperti ini Bahasa tubuh memesona Senyum pun tak kalah Terukir simpul ujung bibir ini Namun hanya dada yang tercekat Nampak rasa luar biasa   Mengetahui kedatanganmu yang tak pasti Buat diriku menjelajah  Itulah aku Menyingkap tirai jendela sekadar melihat keberadaanmu 15 depa itu Haruskah aku suka Pernah kau ajak kawanmu sepenerbangan Gagahnya seragam biru itu bila terpakai Apakah aku ini Siapakah kau ini Menyukaimu bukan apa T api sembunyi-sembunyi ini terus menyiks a

Lulus Kuliah, Lalu Harus Apa?

Perubahan saat menjadi seorang mahasiswa berarti dituntut menjadi orang yang mandiri,berpikir kritis dan mampu berpikir ke depan sehingga dapat bersaing di dunia kerja. Jangka waktu kuliah biasanya ditempuh dalam waktu 1-7 tahun tergantung tingkatan. Masa kuliah yang efektif adalah masa kuliah yang dihabiskan dengan aktivitas yang bermanfaat untuk menunjang nilai maupun bakat. Di masa kuliah adalah masa pematangan diri dengan menambah banyak pengalaman baik dalam organisasi maupun kelompok sosial. Dengan demikian terjalin banyak koneksi dengan teman dan kemampuan softskill yang diyakini mampu mempermudah dalam mencari pekerjaan. Namun dilema dan rasa khawatir dimulai saat masa kuliah itu selesai. Masa saat tugas Akhir atau skripsi lolos, setelah lulus kuliah kita ingin kemana? Anehnya budaya masyarakat Indonesia yang ramah tamah dan sering bersilaturahmi saat lebaran makin memperjelas keadaan sang mahasiswa setelah lulus kuliah.  Setiap lebaran pasti ada saja yang bertanya ...